Senin, 16 April 2012

on my twenty


Akhirnya jam menunjukkan angka 12 dan angka mulai bertambah
Kedewasaan masih jauh dari harapan
Kekanak kanakan masih melekat erat
Setiap aku berfikir entah apa yang terjadi aku selalu berhenti pada sosok pria bernama fajar
Aku tak tau apa yang dia miliki sehingga membuat aku lupa diri
Dia orang yang udah nyakitin tapi masih kau pikirkan hingga sekarang
Apa aku sudah gila? Mungkin.
Karena satu satunya hal yang aku ingat adalah fajar
Aku sadar betapa bodohnya aku ini
Tapi entah kenapa sosoknya seakan menghantui pikiranku
Dia seperti udara yang ku hirup
Dia seperti darah yang mengalir dalam diriku
Setiap aku bernafas terselip namanya terdengar sanubari
Fajar..fajar..fajar..
Makin lama aku makin tahu sifat dia yang sebenarnya
Tapi anehnya sosok itu tak pernah lepas dari otakku…
Bisa jadi aku terkena syndrome fajaritis..
Penyakit otak dan hati yang selalu terpusat pada sebuah nama dan sosok
Tanpa mempedulikan kenyataan yang terjadi
Seolah aku terus hidup di negeri dongeng yang berharap dia akan kembali dan hidup bahagia
Tapi sayang itu hanya sebuah dongeng yang tak mungkin terwujud






Minggu, 15 April 2012

i dedicated for my mom


Ibu…..

Ibu …  Tak pernah lelah engkau membimbingku
Peluh dan keringat mengucur keras membasahi setiap pori pori kulitmu yang sudah mulai keriput
Ibu… jasamu sungguh tak akan bisa aku nilai dengan berlian sekalipun
Sejak aku kecil kau selalu mengasihiku
Memarahiku ketika aku berbuat salah agar aku menjadi orang yang lebih baik
Kau slalu bersabar atas semua tuntutanku
Yang menurutku sangat memberatkanmu
Tapi kau tetap tersenyum walau terasa perih di hatimu
Luka yang tergores tak akan pernah bisa tersembuhkan

Ibu.. bagiku kau adalah mukjizat
begitu sabarnya engkau menghadapi setiap cobaan yang mendera
begitu ikhlasnya engkau menerima takdir
yang tidak bisa semua wanita bisa menerimanya dengan ikhlas

ibu .. begitu tagarnya dirimu
ingin aku menjadi sepertimu
apa aku bisa sepertimu ibu?
Karena akupun akan menjadi seorang ibu, sama sepertimu



Walau kata tak pernah terucap
Tapi satu hal yang pasti
Aku sayang padamu melebihi diriku sendiri

first for me


You let me “Dawn”

Ketika kebimbangan melanda setiap insan
Hanya satu yang selalu diharapkan
Kepastian atas semua pertanyaan yang seakan menghantui setiap pikiran

Dan jika rasa itu hadir
Aku akan terus mencari dan mencari
Kemana kepastian itu pergi

Tak pernah ada logika yang sejalan dengan hati
Karena keduanya beriringan tanpa kepastian Kemana mereka akan menuju
Kebahagiaankah atau kesedihankah ia akan berlabuh

Tanpa tahu arah aku terus mencari sebuah kepastian itu
Kulihat di ujung sana ada sebuah pelita cahaya
Menerangi sebagian dari kegelapan ini
Kuterus melihat cahaya itu hingga akhirnya cahaya itupun menghilang

Baru aku tahu cahaya itu adalah cahaya matahari ketika terbangun dari mimpi panjangnya
Cahaya di pagi hari yang sangat menentramkan jiwa tapi sungguh menyilaukan
Cahaya itu bernama fajar
Ya, fajar yang ada ketika matahari mulai menunjukkan keanggunannya menyirami bumi dengan sinarnya


Belum aku menikmati indahnya sinar itu
Awan kelam menutupi keindahan alam yang tercipta oleh sang maha segalanya
Membawaku kedalam kegelapan yang sudah tak asing lagi bagiku
Ketika sebelum fajar menyinari bumi dan isinya

Rasa tentram seketika berubah menjadi kesunyian
Kehampaan yang sering kurasakan

Saat itulah aku tersadar kenapa aku menyukai cahaya itu……